Aris Hidayat

Tiada pemberian yang terindah selain kata maaf. Tiada perbuatan yang termulia selain memaafkan.

 
JADWAL SHALAT
Hiburan

KasKusRadio - Indonesian Radio
Silaturahmi


kosong
Tragedi cilok
1/16/2009
Masih ingat jaman nakalnya kita waktu umur belasan tahun ?
Saat saya masih pakai seragam SMP, kenakalan umum yang paling mewabah adalah memanggil nama teman dengan nama orang tuanya. Bisa nama ayahnya, atau lebih parah lagi nama ibunya. Saya kurang begitu tahu, apakah trend buruk ini juga melanda di kota-kota lain pada saat itu dan apakah hingga saat ini masih juga terjadi, tapi yang jelas itu adalah hal yang sangat tidak baik. Banyak korban-korban berjatuhan akibat wabah buruk ini, mulai dari berantem antar teman, dipanggil guru BP, bahkan sampai mendapatkan skorsing dari sekolah.

Kejadian paling parah adalah pengalaman memalukan yang dialami oleh seorang teman SMP saya, Prasetyo. Teman saya satu ini memang paling ketagihan kalau urusan harus memanggil dan mengejek teman lain dengan memanggil nama orang tuanya, hingga suatu saat benar-benar kena batunya.
Adalah Nugroho, teman sekelas Prasetyo yang tiap hari berangkat-pulang sekolah dengan naik sepeda. Suatu hari karena suatu hal, Nugroho tidak bersepeda ke sekolah dan jadilah pada waktu pulang sekolah dia dijemput oleh bapaknya. Saat bubaran sekolah, Nugroho yang memang kalem dan pendiam berjalan santai menghampiri bapaknya yang sudah menunggu duduk di motor Vespanya di luar halaman sekolah. Ia duduk membonceng di belakang sang bapak, lalu Vespa pun segera meluncur ke jalan raya. Prasetyo berada beberapa meter tak jauh dari Vespa yang ditumpangi Nugroho dan bapaknya, sedang asyik makan jajanan cilok (aci dicolok, Jw: bakso kojek) favoritnya. Insting untuk memanggil nama bapak teman-temannya begitu terasah tajam, hapalan nama orang tua masing-masing teman sekelasnya pun sudah katam di luar kepala. Susah bagi dirinya untuk melewatkan setiap teman yang tertangkap oleh matanya, tanpa kemudian ia memanggilnya dengan nama bapaknya. Mungkin dia bisa sakaw bila tidak melakukannya. Tak terkecuali saat vespa yang dinaiki Nugroho dan bapaknya lewat di depan Prasetyo. Dengan segenap haribaan nuraninya, seluruh otot diafragma dan saraf pita suara yang ada, Prasetyo meneriakkan kata-kata yang ia yakin adalah nama milik bapak si Nugroho (nama bapaknya Nugroho adalah pak Mustar)

“MOOOSSSTAAAAAAAARRRRRRRRRR !! “, begitu keras hingga beberapa cilok di tangannya mencolot berjatuhan.

ciiiiiiiit …. tiba-tiba suara ban yang berdecit dari Vespa yang sedang berjalan, mengerem mendadak, lalu berhenti seketika Dengan sekali putar, Vespa itu berbalik dan menuju ke arah asal teriakan suara. Suara yang tentunya sangat menyakitkan bagi sang pengemudi Vespa.
Nugroho yang duduk kursi dibelakang hanya pasrah, wajahnya bagaikan televisi LCD jaman sekarang, flat.
Prasetyo mulai menyadari ke te-o-el-o-el an nya, melihat pak Mustar menuju ke arahnya. Seluruh badannya lemas tak berdaya hingga beberapa butir cilok kembali menggelinding dari plastik di genggaman tangannya jatuh ke tanah.

“Anda memanggil saya,…. ada perlu dengan saya ?”, pak Mustar bertanya tegas dengan nada tinggi. Wajahnya menunjukkan ekspresi marah, tidak suka. Tatap mata pak Mustar yang tajam menembus kacamatanya, membuat Prasetyo semakin menggigil, kaku dan sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi.
Diam seribu bahasa, lalu wajahnya kini memerah.

”Mmmm mmmmaaaf pak,… ss ssaya kira tadiii…ituuu mmmm pffff “, Prasetyo tergagap, satu butir lagi cilok menggelinding jatuh dari tangannya.
posted by Aris Hidayat @ 8:22 AM   0 comments
MENGENALI KESALAHAN DAN KELEMAHAN DIRI
… فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى (لنجم:32)

“……maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci, Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS 53:32).

Mengetahui dan menyadari kesalahan adalah awal kebaikan. Sementara merasa benar terus adalah awal dari kehancuran. Kesalahan memang merupakan tabiat manusia, namun tidaklah bijaksana bila kita terus menerus melanggengkan kesalahan apalagi mewariskannya kepada binaan-binaan atau anak-anak kita. Surat An-Nisa ayat 9 mengingatkan kita bahwa ada keterkaitan yang erat antara kuat atau lemahnya generasi penerus dengan ketakwaan dan kebenaran ucapan orang tua atau pembina. Oleh karena itu sepantasnyalah kita selalu mawas diri jangan sampai kita mewariskan keburukan kepada penerus-penerus kita.

Hendaklah kita menjadi pribadi yang malu bila berbuat salah. Malu kepada Allah dan malu kepada orang-orang beriman. Tidak cukup sekadar mengetahui bahwa diri kita salah, tetapi kita begitu manja meminta permakluman dari Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penerima Tobat. Yang harus kita lakukan bukan hanya menjauhi kesalahan-kesalahan yang besar dan fatal tetapi juga berusaha menghindarkan diri dari kekeliruan-kekeliruan kecil. Sebab apapun bentuknya bila kita sadar melakukan kesalahan tetap saja itu merupakan dosa.

Siapa pun kita pasti pernah terjatuh pada kesalahan. Tugas kita adalah memohon ampun dan bertobat kepada Allah. Untuk kesalahan pada sesama manusia tentu saja kita harus meminta maaf lebih dulu kepada mereka. Jangan gengsi untuk mengakui kesalahan. Jangan sampai kita berbohong untuk membela kesalahan kita. Apalagi kita berargumen untuk membela kesalahan tersebut dan meminta orang lain menganggap bahwa kesalahan kita adalah kebenaran, na’udzubillahi min dzalik

Allah paling mengetahui tentang diri kita dan melebihi pengetahuan kita. Maka janganlah kita merasa diri kita bersih dan merasa diri paling benar. Kalaupun kita benar dan orang lain salah kita tidak boleh melecehkan kesalahannya. Kalau kita tidak ingin aib kita dibuka orang lain maka jangan buka aib orang lain. Meluruskan diri sendiri dan orang lain tidak perlu dengan cara membuka aib. Cukuplah kita meminta ampun kepada Allah dan melakukan langkah-langkah perbaikan yang lebih menjaga kehormatan diri dan orang lain. Terkadang ada orang yang karena kesalahannya terlanjur dibeberkan menjadi malu dan bersikap antipati, bukan hanya kepada yang membeberkan tetapi juga kepada wadah di mana si pembeber aib bernaung. “Janganlah karena engkau orang jadi benci terhadap Islam”(Al Hadits). Kebenaran harus diperjuangkan dengan cara yang benar pula, al ghaayah laa tubarrirul wasiilah (tujuan tidak boleh menghalalkan segala cara).

Jadi masalahnya bukan tidak boleh mengungkap kesalahan orang lain, tapi bagaimana caranya agar pengungkapan itu tidak membawa dampak negative bagi yang bersangkutan: menghalanginya dari jalan Allah. Teruslah memperjuangkan kebenaran. Jantanlah mengakui kesalahan dan bijaksanalah dalam meluruskan kesalahan orang lain. Keberhasilan berawal dari kesadaran akan kesalahan, sehingga setiap pribadi senantiasa terus memperbaiki diri menuju kepada kesempurnaan.
posted by Aris Hidayat @ 8:17 AM   0 comments
Better Person
Jika Anda diberi kesempatan mengulang lagi kehidupan Anda, ingin menjadi siapakah Anda? Atau ingin menjadi seperti apakah Anda? Beberapa dari kita ingin menjadi seorang bisnisman yang sukses. Ada juga yang mungkin yang ingin menjadi politikus. Ketika seorang reporter menanyakan pertanyaan ini kepada tokoh Kristen, George Bernard Shaw, ia hanya
menjawab singkat, “Hmm, jika saya diberi kesempatan mengulang hidup, saya ingin tetap menjadi George Bernard Shaw, namun bertumbuh lebih baik lagi.”

Hanya sedikit orang yang mencapai kebesaran dalam hidup karena mereka bangga menjadi dirinya sendiri. Oprah Winfrey pernah berkata, “Jika Anda tahu betapa banyaknya potensi unggul dalam diri Anda, Anda tidak akan pernah berpikir lagi untuk menjadi seperti orang lain.” Mungkin karena kita kerap melihat dan menilai orang lain, jauh lebih banyak daripada
melihat ke dalam diri kita sendiri, kita akhirnya memilih untuk menjadi seperti orang lain daripada menjadi diri sendiri. Kesuksesan sejati tidak pernah dicapai ketika kita masih sibuk mematut diri menjadi seperti orang lain.

Jadi, apakah Anda tidak puas dengan diri Anda? Atau tidak puas dengan apa yang Anda miliki? Kalau pun Anda diberi kesempatan dan menjadi seperti orang tersebut, percayalah! Sukses tidak akan pernah menghampiri hidup Anda. Karena ketika Anda menjadi diri sendiri dan menggali yang terbaik yang Anda miliki, sesungguhnya Anda sedang menggali mutiara terpendam dalam diri Anda. Dan di situlah sesungguhnya sukses yang sesungguhnya.

JIKA ANDA TIDAK BISA MENGHARGAI DIRI ANDA SENDIRI, JANGAN HERAN JIKA ORANG LAIN PUN MELAKUKAN HAL YANG SAMA TERHADAP DIRI ANDA
posted by Aris Hidayat @ 8:10 AM   0 comments
Aturan Sederhana Tentang Kebahagiaan
Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya , Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup - karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong
si keledai. Dan ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.


Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian.Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah,lalu menaiki tanah itu.Sementara tetangga-2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik.Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari ’sumur’ (kesedihan, masalah,dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari ’sumur’ dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.
Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah.
Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !
> Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
> 1. Bebaskan dirimu dari kebencian
> 2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
> 3. Hiduplah sederhana
> 4. Berilah lebih banyak
> 5. Berharaplah lebih sedikit
> 6. Tersenyumlah
> 7. Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum

”Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk,inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini !”
posted by Aris Hidayat @ 8:05 AM   0 comments
Jam Sekolah
1/14/2009
Orang berkenalan dengan arti adil dan tidak adil itu baru di dalam negara." Begitu Thomas Hobbes, filsuf kelahiran Malmesbury, Inggris, meletakkan posisi negara dalam karya masterpiecenya, Leviathan yang terbit 1651 silam. Menurut Hobbes, manusia hakikatnya adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Manusia hidup dalam persaingan satu sama lain, karena tak adanya hukum. Maka tak ada tertib (orde), tapi kekacauan (chaos). Dari keadaan kacau inilah lahir kontrak antarindividu untuk membentuk negara.

Di atas batu bata inilah, lalu negara mengatur masyarakat, menciptakan tatanan kehidupan masyarakat dan mendirikan keadilan. Jadi negara dibentuk untuk dan menuju pada sebuah hidup yang adil--di mana seluruh individu diayomi tanpa diskriminasi. Negara memiliki otoritas. Dari sini muncullah lewat hukum.

Nah, sekeping tanya lalu menyeruak. Sampai batas mana negara dibolehkan mengatur kehidupan masyarakat? Jika ini diletakkan dalam konteks Jakarta, negara bahkan masuk hingga ke ruang tidur anak sekolah. Negara mencoba "memaksa" anak untuk tidur lebih cepat, tapi juga harus bangun pagi-pagi. Pasalnya jam sekolah mulai 5 Januari 2009 telah dimajukan dari pukul 07.00 WIB ke pukul 06.30 WIB. Negara, dalam konteks ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lalu menciptakan hukum untuk mengabsahkannya. Maka lahirlah Peraturan Gubernur sebagai payung hukumnya.

atanya kebijakan ini dapat mengurangi kemacetan 6-14 persen. Tersebutlah hasil survei dari konsultan yang disewa Pemprov DKI Jakarta. Pada 2008, ada sekitar 20,7 juta perjalanan setiap hari di Jakarta. Perjalanan dengan kereta hanya tiga persen, kendaraan bermotor (57 persen) dan perjalanan tanpa kendaraan bermotor (40 persen).
posted by Aris Hidayat @ 12:33 PM   0 comments
Bani Israel: Pengkhianatan Demi Pengkhianatan.
Setiap kali rakyat Palestin menghulurkan tangan mereka untuk berdamai, setiap kali itulah rejim Zionis Israel akan mengkhianatinya. Samada perdamaian itu di dalam bentuk gencatan senjata, perjanjian damai mahupun persefahaman. Oslo 1993 yang berat sebelah itupun telah mereka khianati.

Walaupun rakyat Palestin kerugian dan ditipu melalui Oslo 1993, rejim Zionis tersebut tidak berasa puas. Akhirnya mantan PM Israel, Ariel Sharon telah mengumumkan “mati”nya Oslo pada tahun 2002.

Pasca Intifadah 2000, kita telah menyaksikan bagaimana rejim Zionis telah mengalami kejutan demi kejutan. Pengunduran dari Gaza, kekalahan kepada Hizbullah dan lain-lain lagi memaksa mereka untuk bersetuju dengan gencatan senjata. Malangnya setiap kali pihak Palestin menerima gencatan senjata, setiap kali itulah mereka menyerang semula. Semanjak tahun 2005 sehingga kini, rejim Zionis tidak kenal erti menghormati pihak musuh.

Keadaan seperti ini mengundang kembali senario di zaman Rasulullah SAW. Walaupun kaum Yahudi Zionis yang berada di bumi Palestin hari ini bukanlah 100% berketurunan Bani Israel, namun sikap mereka tidak ubah seperti golongan berkenaan sewaktu berada di al-Madinah al-Munawwarah.

Ya, mungkin ramai yang terkejut jika dikatakan kaum Yahudi yang menjajah bumi Palestin bukanlah dari keturunan Bani Israel. Hakikat ini telah didedahkan oleh Arthur Koestler di dalam bukunya “13th Tribe”. Hakikat ini jugalah yang diakui oleh para sejarawan Yahudi sendiri. Yahudi Ashkenazi yang membentuk 70% daripada kaum Yahudi yang wujud di muka bumi hari ini adalah berasal dari keturunan Khazaria di Laut Hitam Rusia. Mereka bukanlah dari keturunan Bani Israel, mereka hanya memeluk agama Yahudi pada kurun ke-7 Masehi.

Perbezaan keturunan ini, walau bagaimanapun tidak menjadikan mereka berbeza dari sikap. Perlu difahami di sini, umat Islam bukanlah umat yang fasis, apalagi bersikap perkauman. Al-Quran dan juga Rasulullah SAW tidak pernah mengajar kita membenci seseorang kerana keturunan mahupun bangsanya.

Malah di dalam surah al-Mumtahanah, Allah SWT ada menyebutkan: “Allah tidak melarang kamu dari berbuat baik kepada mereka yang tidak melarang kamu dan tidak memerangi kamu kerana agama” (Surah al-Mumtahanah: ayat 8). Sejarah juga telah merekodkan sikap dan pekerti mulia Rasululullah Saw kepada golongan Yahudi yang wujud di bumi Madinah. Sejarah juga telah merekodkan sikap dan pekerti mulia para sahabat kepada golongan Kristian di bumi Syam, di utara Afrika, terutamanya golongan Kristian Koptik dan lain-lain lagi.

Seperkara yang lebih menarik, golongan Yahudi yang diseksa dan dizalimi di bumi Eropah pun hanya menemui kemanan apabila berada di negara-negara Islam seperti Andalus, Maghribi, Baghdad dan Yaman. Sejarah mencatatkan sedemikian, para sejarawan juga akur, hanya mutakhir ini sahaja terdapat usaha untuk mengubahnya. Seorang aktivis politik haluan kiri, dan mantan ahli Knesset rejim Zionis Israel, Uri Avnery juga mengakui hal ini. Beliau telah menyebutkannya di dalam artikel beliau yang tersebar ke seluruh dunia bertajuk “Muhammad’s Sword”. Artikel itu ditulis demi membalas tuduhan sembrono Pope Benedict ke-16 bahawa Islam tersebar ke seluruh dunia menggunakan mata pedang.

Fakta yang tidak dapat ditolak oleh mana-mana individu Yahudi ialah kehidupan nenek moyang mereka di zaman Andalus merupakan zaman keemasan mereka. Moses Ben Maimon, dan lain-lain nama yang gah dan mahsyur di dalam sejarah Yahudi merupakan produk dari sikap toleransi umat Islam kepada penganut agama lain. Di kala kaum Yahudi disembelih, dizalimi, dibenci, dipulaukan, dihina dan diperlaku sesuka hati di benua Kristian Eropah, mereka yang hidup bersama masyarakat Islam hidup dengan penuh kemewahan.

Di Andalus, mereka boleh menjawat jawatan menteri, di Baghdad, mereka diberikan keprcayaan yang tinggi oleh Khalifah, malah di negara Syam pasca Salahuddin, mereka juga hidup bersama arus perdana umat Islam. Hal yang sedemikian merupakan mimpi bagi kaum Yahudi yang tinggal di dalam masyarakat Katolik Eropah. Alasan kaum Katolik mudah sahaja, kaum Yahudi merupakan pembunuh Jesus. Kota Vatican di zaman pra-Pencerahan sendiri telah menyaksikan sebuah Ghetto Yahudi bersebelahan kota tersebut. Ghetto tersebut telah dijadikan tempat untuk para penganut agama Kristian melepaskan geram mereka. Bagi sesiapa yang menunaikan ziarah ke kota berkenaan, mereka pasti akan melemparkan telur, melepaskan kata-kata kesat dan juga 1001 ritual yang lain demi melepaskan geram ke arah keturunan “pembunuh Jesus”.

Sentimen anti Semitik di Eropah berasal dari titik tolak aqidah dan keagamaan. Islam tidak pernah mengajarkan kita perkara yang sedemikian. Malah Islam mengiktiraf semua manusia sebagai saudara. Rasulullah SAW mengatakan : “Kamu semua adalah dari Adam, dan Adam berasal dari tanah” (Hadis riwayat Abu Daud, al-Tarmidhi, dan al-Bayhaqi di dalam Syu’ab al-Imaan, al-Albaani mengkategorikannya sebagai Hassan). Kita semua diciptakan untuk mengenali dan menjalinkan persahabatan di antara satu sama lain, menurut ajaran Islam. Allah SWT mengatakan: “Wahai manusia, Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari sepasang lelaki dan perempuan, dan kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan juga berkabilah-kabilah, untuk kamu berkenalan…”(Surah al-Hujuraat: ayat 13).

Islam tidak pernah mengajar kita untuk membenci kaum Yahudi kerana mereka dilahirkan Yahudi. Islam tidak pernah mengajar kita untuk membenci kaum Yahudi kerana mereka beragama Yahudi. Agama merupakan pilihan individu, Islam memgiktiraf perbezaan agama. Prinsip ini perlulah difahami oleh setiap umat Islam. Seperkara yang lebih istimewa lagi, kaum Yahudi telah diberikan layanan yang khas dan istimewa berbanding agama lain di dalam al-Quran. Mereka telah digolongkan ke dalam golongan Ahli Kitab. Umat Islam dibenarkan memakan sembelihan mereka dan juga berkahwin dengan wanita mereka.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana pula dengan ayat-ayat al-Quran yang menceritakan tentang kejahatan Bani Israel?, Ataupun ayat-ayat yang menceritakan tentang sikap buruk mereka?, Atau juga ayat-ayat yang menyuruh kita agar tidak mengambil mereka menjadi rakan, pembantu dan juga orang yang boleh dipercayai ?

Jawapannya mudah sahaja. Al-Quran sebagai kitab petunjuk kepada semua umat manusia tidak mengecualikan bangsa Bani Israel daripada dakwah mereka. Apabila al-Quran menceritakan tentang sikap buruk Bani Israel di zaman para Nabi dan Rasul-rasul terdahulu, ianya merupakan peringatan kepada kaum Yahudi di Madinah tentang sikap buruk sekumpulan daripada datuk nenek mereka yang telah mengundang kemurkaan Allah.

Maka, mereka perlulah mengambil iktibar dan jangan mengulanginya lagi. Teks-teks tersebut tidak boleh dilihat sebatai anti-Semitik, kerana kitab perjanjian lama pun ada menyebutkan sebilangan besar insiden-insiden yang sama. Sepertimana kisah Bani Israel diceritakan, kisah-kisah kaum lain seperti ‘Aad, Thamud, kaum Tubba’ dan lain-lain juga turut dirakamkan oleh al-Quran.

Al-Quran juga telah merakamkan sikap buruk A’rab, iaitu golongan Badwi, di dalam ayat “A’rab (Badwi) itu mempunyai sifat kekufuran dan kemunafikan yang melampau” (Surah al-Taubah: ayat 97). Ayat tersebut bukanlah bermaksud Islam membenci kaum Badwi ataupun bersikap anti-Badwi. Hal yang sama juga berkaitan dengan ayat-ayat yang menceritakan perihal buruk kaum Bani Israel. Ayat-ayat yang menceritakan tentang sikap buruk kaum Yahudi sebenarnya bertujuan menceritakan perkara-perkara buruk mereka yang perlu mereka tinggalkan.

Mengenai ayat-ayat yang menceritakan tetang keburukan mereka yang telah mengkhianati umat Islam dan sikap curang pula, ianya bertujuan menceritakan sikap kaum Yahudi di Madinah di zaman tersebut. Begitu juga halnya dengan ayat-ayat yang memerintahkan agar mereka dibunuh dan diperangi adalah merupakan balasan terhadap pengkhianatan kaum Yahudi Madinah terhadap perlembagaan Madinah itu sendiri. Ayat-ayat tersebut perlu difahami melalui konteksnya, berdasarkan Asbab al-Nuzul (sebab turun ayat). Memahami ayat-ayat tersebut tanpa melihat kepada Asbab al-Nuzul hanya akan membawa kepada salah faham dan sikap perkauman seperti golongan Katolik.

Bagaimana pula dengan sikap kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi di Madinah?

Jika diamati, setiap peperangan yang telah dilancarkan oleh Raulullah SAW ke atas kaum Yahudi di Madinah adalah bersikap politik. Kesemua operasi-operasi tersebut adalah berdasarkan “Rule of Law” dan juga mempunyai asas-asas perundangan. Mengapa tidak?, bukankah setiap peperangan yang dilancarkan itu adalah kerana pelanggaran perlembagaan Madinah. Perlembagaan Madinah yang terjasad pada Sahifah al-Madniah. Kaum Yahudi, yang merupakan sebahagian daripada “ummat” di Madinah telah terlibat bersama merangka perlembagaan tersebut. Sebagai “social contract” yang dipersetujui bersama oleh seluruh anggota masyarakat madinah, ianya mempunyai unsur “keluhuran” yang perlu dihormati bersama. Sebarang pelanggaran kepada artikel-artikel perlembagaan Madinah merupakan “act of treason” (pengkhianatan).

Berdasarkan prinsip “perlembagaan” inilah, operasi-operasi memerangi kaum Yahudi di Madinah telah dilancarkan. Operasi memerangi Bani Nadhir, operasi memerangi Bani Qurayzah, operasi memerangi Bani Ghatafan, operasi memerangi Yahudi Khaybar dan lain-lain operasi adalah bertunjangkan semangat “perlembagaan” ini. Barangsiapa yang mentafsirkan semua peristiwa-peristiwa tersebut selain daripada pentafsiran ini adalah salah. Barangsiapa yang mentafsirkan peristiwa tersebut dengan alasan perbezaan agama ataupun dari titik tolak perkauman, merupakan tafsiran yang dangkal dan bersalahan dengan Ruh Syariat Islam itu sendiri.

Realiti hari ini di Palestin juga perlu dilihat dari perspektif yang sama. Fakta ini bertepatan dengan apa yang telah difatwakan oleh Dr Yusuf al-Qaradawi di dalam fatwa-fatwa beliau berkaitan isu Palestin dan Yahudi. Kita memerangi rejim Zionis Israel adalah kerana mereka telah memerangi kita dan merampas bumi Palestin serta masjid ketiga suci kita, iaitu Masjid al-Aqsa.

Kita bukannya memerangi mereka kerana mereka berbangsa Yahudi ataupun kerana mereka beragama Yahudi. Jika mereka tidak menjajah bumi umat Islam, jika mereka tidak memerangi umat Islam, jika mereka tidak berusaha merobohkan masjid ktiga suci kita, kita tidak mempunyai masalah dengan mereka. Cukuplah lembaran-lembaran sejarah menjadi saksi, bahawa umat Islam merupakan pelindung kaum Yahudi di zaman kegelapan Eropah dahulu!

Artikel asal: Maszlee Malik (Milenia Muslim)
posted by Aris Hidayat @ 8:46 AM   0 comments
Kehancuran Israel Sudah Dekat
Dan Telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar". (QS. Al-Isra [17]: 4).
AYAT INI terdapat pada surah al-Isra, 111 ayat, yang diturunkan di Makkah. Dinamakan surah 'Al-Isra' karena pada ayat pertamanya menyinggung tentang perjalanan Isra-Mi'raj nabi Muhammad saw yang belum pernah dilakukan oleh nabi-nabi sebelumnya, bahkan oleh makhluk Allah yang manapapun setelah itu.

Meramal Kehancuran Israel
oleh: Taufiq Munir
Topik utama surah al-Isra tak terlepas dari masalah akidah seperti galibnya surah-surah 'Makiyah' lain. Surah ini juga menyinggung beberapa hal penting seputar syariat ibadah, perbaikan akhlak, etika, nilai-nilai spiritual, isyarat kosmis dan beberapa catatan sejarah. Di kesempatan ini Penulis berfokus pada masalah ayat keempat yang meramalkan kehancuran bangsa Bani Israil di muka bumi ini.


Pendapat ahli tafsir

1. Al-Maraghi menulis: yang dimaksud dengan membuat 'kerusakan dua kali' ialah pertama menentang hukum Taurat, membunuh nabi Yusya' dan memenjarakan Armia. Kedua yaitu membunuh nabi Zakaria dan bermaksud untuk membunuh nabi Isa a.s. Akibat perbuatan tersebut, Yerusalem dihancurkan.

2. Dalam "Fi Zhilal al-Quran", syekh Sayyid Quthb menjelaskan ayat tersebut: "ketetapan (yang di maksud) ialah penghabaran dari Allah mengenai sesuatu yang akan terjadi pada mereka dari sudut pandang Allah Yang Mahatahu akan sepak terjang mereka. Bukan ketetapan mandat (pemaksaan) yang timbul dari perbuatan mereka sebab Allah swt tak mungkin memberi ketetapan untuk menghancurkan seseorang dengan membinasakannya (Innallaaha laa ya'muru bil fahsyaa.... [sesungguhnya Allah tidak memerintahkan keburukan]). Allah Mahatahu apa yang akan terjadi 'dari sesuatu yang ada', sebab ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan 'akan adanya sesuatu' yang bakal terjadi. Kalau dikaitkan pada pengetahuan manusia, tentu sesuatu itu belum terjadi dan tidak menyingkapkan tabir. Allah swt memutuskan kepada Bani Israil melalui kitab yang diturunkan kepada nabi Musa as bahwa: mereka akan dirusak DUA KALI selama mereka di muka bumi ini. Mereka akan mengejawantahkan kesombongannya serta menguasai tanah suci. Ketika mereka sedang pongahnya merusak bumi ini, Allah mengutus salah seorang hamba pilihan-Nya untuk mensucikan kehormatan mereka dengan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya!

3. Penulis buku Shofwat al-Bayan li Ma'ani al-Quran mengatakan: Dan Telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil artinya Kami wahyukan kepada Bani Israil dalam arti Kami ajari dan Kami beritahukan di dalam Taurat tentang dua kali kerusakan yang akan terjadi pada mereka, tepatnya di negeri Syam. Menurut mufasir ini, kerusakan yang dimaksud ada dua hal: Pertama, merubah Taurat dan tidak mau mengamalkannya, menahan dan melukai Armia ketika mengabarkan tentang nabi Muhammad SAW. Kedua membunuh nabi Zakariya as dan Yahya as.


Bebebapa Indikasi Nubuat dalam Al-Quran:


Wa Qadhaina - Dan Telah Kami tetapkan

Qadha dalam bahasa Arab artinya menghukum, memerintahkan atau memberitahu tentang sesuatu ketetapan dan memutuskannya. Maksudnya ialah memutuskan sesuatu baik secara perkataan maupun dengan perbuatan. Kadang qadha juga bermakna mencipta, memperkirakan, berkreasi dan merampungkan segala urusan. Qadha lebih khusus daripada qadar karena qadha adalah keputusan dari taqdir. Dengan kata lain qadar ialah takdir sedangkan qadha ialah memutuskan dan memastikan apa yang sudah ditakdirkan, sedangkan qadar ialah sesuatu yang belum qadha (diputuskan) maka masih bisa diharapkan lagi pembelaan dari Allah. Namun apabila sudah qadha (diputuskan) tidak akan ada lagi pembelaan dan menghindarinya.

Kata kerja qadhaina pada ayat di atas bermakna ikhbar (informasi), bukan ijbar (memaksa). Tentu ini berkaitan dengan ilmu Allah swt, suatu ilmu yang syumuli (mahaluas) dan meliputi segala segalanya: baik yang lalu, masa kini, maupun masa yang akan datang. Semua itu milik-Nya, dan karenanya segala bentuk waktu tadi di mata Allah selalu "sedang terjadi" sebab sang waktu adalah ciptaan-Nya sendiri. Sang Khaliq meliputi semua makhluk-Nya. Sedangkan semua ciptaan-Nya, termasuk manusia yang lemah tiada berdaya, tak akan mampu memberi batasan sang Khaliq. Masa depan dalam sudut pandang (ilmu) manusia ialah sesuatu yang belum pernah terjadi, sedangkan menurut ilmu Allah ia "ada" dan memang "nyata". Karena ia ada dan nyata, maka tak heran jika Allah mengetahui pasti bahwa Bani Israil akan binasa di muka bumi... bahkan dua kali! Mereka mengimplementasikan segala kesombongannya itu pada bangsa-bangsa lain di muka bumi ini, wabilkhusus "tanah suci" Palestina. Ketika mereka sudah benar-benar mencapai puncak keserakahan, Allah swt akan "mengutus" seorang hamba pilihan-Nya yang akan menaklukkan, menghancurkan dan menghinakan mereka selamanya.


..."Kepada Bani Israil"

Israil adalah Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim. Tiga rentetan nama ini semuanya nabi-nabi Allah yang diutus ke muka bumi. Arti nama Israil ialah 'hamba Allah', namun tidak diketahui pasti sejarahnya selain fakta yang menunjukkan bahwa ia dilahirkan di masa kakeknya masih hidup, yaitu Ibrahim alaihissalam. Beliau (Israil alias nabi Ya'qub) meninggal dunia di Mesir di samping anaknya yaitu Yusuf as. Beliau disebut Abul Asbath 'Bapak Sabath', dan dari sinilah kemudian anak-cucunya disebut Banu atau Bani Israil. Israil, nama lain dari Ya'qub, menetap di negara Mesir selama 24 tahun. Sebelum meninggal, ia sempat berwasiat kepada anaknya, Yusuf as, agar ia dikebumikan di samping ayahnya, Ishaq as. Yusuf memenuhi amanat tersebut: beberapa saat setelah Ya'qub wafat, ia langsung memboyong orang tuanya di dalam peti ke tanah Palestina, di samping pusara kakeknya.

Beberapa kalangan menyebut bahwa Yahudi sekarang merupakan keturunan nabi Ya'qub. Padahal Yahudi -sama seperti agama-agama sebelumnya- terdiri dari para pemeluk yang berasal dari ras, suku, etnis, budaya dan bangsa-bangsa lain yang ada di jagat ini. Ada pula yang mengklaim kemurnian darah Yahudi dari percampuran darah lain, klaim dusta dan isapan jempol belaka. Tuduhan-tuduhan tersebut dapat disangkal dengan mudah oleh ilmu genetika. Kehadiran keturuan-keturunan Yahudi dari berbagai suku, bangsa dan ras pada saat ini adalah bukti tentang keragaman usal-usul Yahudi yang heterogen.

Terbukti bahwa Yahudi Khazar (Yahudi Rusia dan Eropa Timur) sudah mencapai 92% Yahudi dunia. Khazar ialah bangsa pagan kuno yang akar sejarahnya dimulai dari Turki, Mongol, dan Tatar yang hidup di wilayah antara lembah Folga dan lembah Danob, laut hitam dan laut Qazwin, dan tak ada kaitannya dengan bangsa Arab ataupun asal-usul semitis. Bangsa ini hidup di dua abad, yaitu abad ke-2 dan abad ke-10 M di kerajaan pagan sekitar laut Qazwin yang dikenal dengan nama kerajaan Khazar. Jalannya memecah Eropa Timur melalui serangkaian perang yang berlangsung berabad-abad.

Pada pertengahan abad 8 M (tepatnya tahun 740 M) para pendeta Yahudi datang ke kerajaan Khazar menawarkan sesuatu. Mereka meminta kepada raja Khazar yang kala itu bernama raja Bulan untuk menerima Yahudi sebagai agamanya. Tak lama akhirnya Bulan masuk agama Yahudi. Seiring dengan masuknya sang raja ke dalam agama Yahudi, kerajaan itu memaksa seluruh penduduknya untuk beragama Yahudi pula. Sejak saat itu agama Yahudi resmi sebagai agama kerajaan.

Di abad-10 M imperium Rusia tetap bertahan dari invasi kerajaan Khazar yang terus memborbardir negara itu. Namun sebagian besar penduduknya berevakuasi ke negara-negara Eropa Timur. Sebagian diantaranya pergi ke Eropa Barat, Amerika dan Amerika Latin. Memang masih ada yang bertahan di sana, namun mereka hanyalah representasi Yahudi imperium kaisar Rusia. Mereka inilah yang kemudian disebut dengan nama Eskanazim (Saknag) alias "Yahudi Eropa Timur". (Detail sejarah tersebut bisa dibaca pada literatur berikut: [1]. Dunlop, DM 1954; The History of Jewish Khazars, Princeton University Press. [2]. Koestler, Arthur; The Khazars: The Thirteenth Tribe, Its Heritage and Its Empire).

Sedangkan Yahudi non-Khazar kurang dari 8% dari populasi Yahudi dunia saat ini. Mereka adalah Yahudi Asia-Afrika dan negara-negara Andalusia yang dikenal dengan sebutan Esaradim (Sparadim). Ini bukti lain dari sanggahan terhadap satu klaim bahwa Yahudi terhindar dari percampuran darah dengan ras-ras lain di luar darah aslinya. Juga, bukti yang memperkuat kegagalan suatu teori bahwa Yahudi berkaitan langsung dengan nabi yang mulia, Ya'qub alaihissalam. Satu tuduhan yang tentu saja ditentang ilmu genetika, terlebih lagi ilmu sejarah.

Paparan ini bisa menjelaskan lebih jauh bahwa ungkapan Bani Israil (anak-anak Israil) dalam al-Quran bukanlah ungkapan rasis, karena al-Quran hanya menegaskan kesatuan bangsa manusia dan merefer satu unifikasi umat manusia itu pada satu ayah. Di sini kitab suci hanya menyebut satu komunitas yang memiliki tingkat keegoan tinggi yang dengan lancang selalu menyebut keyakinan yang salah bahwa hanya mereka bangsa yang terpilih, anak-anak dan kekasih-Nya sedangkan makhluk-makhluk di luar komuntiasnya laksana binatang berkepala manusia sehingga mereka layak menjadi pelayan mereka. Tuhan, kata mereka, adalah Tuhannya Israel dan bangsa Israel saja. Sedangkan di luar mereka, tidak memiliki Tuhan sama sekali. Dengan dalih itulah mereka menghalalkan apa saja: darah, kehormatan, harta dan tanah milik orang lain. Mereka halalkan apa saja, sebab itu merupakan bentuk taqarub mereka kepada tuhan. Padahal, ras tidak ada nilainya dalam pandangan Allah, karena yang penting adalah ketakwaan dan keimanan seseorang. Dalam pandangan Allah, orang-orang terpilih adalah orang-orang yang tetap mengikuti agama Ibrahim, tanpa memandang rasnya.

Berangkat dari perspektif rasial, Yahudi menjadi komunitas yang paling fanatikis dan intoleran terhadap orang lain di luar bangsanya. Al-Quran sendiri menyebut rentetan kepribadian, spesifikasi, ataupun unsur-unsur kejiwaan mereka yang semuanya membentuk frame pribadi yang despotis, arogan, pongah, angkuh, berkepala batu, merasa paling 'super' dibanding yang lain, hingga tak ragu bertindak lalim dan barbarian. Jangan lupa, mereka juga paling piawai berkhianat, melanggar janji atau kesepakatan, selalu iri pada pihak lain, dengki terhadap keberhasilan negara lain, dan selalu memaksakan diri berbuat onar di muka bumi. Track record kaum Yahudi juga tercatat abadi sebagai kaum penyebar kemungkaran, penghancur nilai-nilai moral dan norma masyarakat. Contoh kongkritnya adalah wujudnya serangkaian pembunuhan yang mereka lakukan terhadap para nabi, atau sesama mereka sendiri. Watak asli Yahudi tak pernah berhenti hingga kini: mereka tak pernah sungkan melakukan fitnah dan makar yang akhirnya menyulut api perang di dunia ini. Yahudi yang berdarah-darah di sepanjang sejarah tak pernah menyurutkan niat untuk mencapai perubahan. Mereka akan tetap menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, termasuk memberangus umat manusia, sebab -menurut mereka- "kami adalah bangsa pilihan Tuhan, anak-anak Tuhan, kekasih Tuhan." Kesombongan yang luar biasa. Karena itu Allah berfirman: Dan Telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar".


Kamu akan Membuat Kerusakan di Muka Bumi ini Dua Kali!

Pendapat yang paling otentik menyebut bahwa dua kali kerusakan yang dimaksud tentunya perlakuan yang terkotor dan yang terkejam diantara kejahatan-kejahatan lain yang pernah mereka lakukan sepanjang sejarah. Pendapat ini beralasan bahwa berbuat onar merupakan bagian yang terpisahkan dari mainframe psikologis mereka. Karena itu pada ayat selanjutnya al-Quran menyebut: "dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman." (QS. Al-Isra [17]: 8).

Awal pengrusakan yang paling fatal dilakukan kaum Bani Israil --menurut kalangan ahli tafsir--, ialah saat mereka berada di Madinah. Ketika itu mereka kembali menghadap Rasul dan menolak dakwahnya. Mereka sempat melobi Rasulullah, lalu kemudian membatalkan secara sepihak seluruh kesepakatan yang dibuat bersama. Sejalan dengan pengkhianatan tersebut, mereka bekerjasama dengan kaum pagan untuk mengagitasi Rasulullah saw. Tak hanya itu, mereka bahkan berusaha meracuni dan membunuh Rasulullah saw, namun berkat pertolongan-Nya usaha mereka tidak berhasil. Kendatipun demikian, pengkhianatan demi pengkhianatan yang dilakukan Yahudi Bani Qainuqa, Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Yahudi Khaibar tetap berlangsung. Lalu Rasulullah memerintahkan agar mereka disingkirkan secara total dari jazirah Arabia. Sejak saat itulah jazirah Arab steril dari Yahudi-Yahudi pembangkang.

Pengrusakan besar-besaran yang kedua yang dilakukan Yahudi dimulai di bumi Palestina, tepatnya di tahun 1649. Saat itu mereka mendirikan gerakan Zionis di Inggeris yang menyerukan para penganut Yahudi untuk berpulang ke tanah Palestina setelah dikucilkan selama 1600 tahun. Oleh karena itu mereka mulai menghimpun action-plan berupa menghancurkan negara khilafah islamiyah yang saat itu tengah berjaya. Rencana tersebut terlaksana, khilafah Islam itu dipecah melalui serangkaian perang yang berkecamuk tanpa henti. Negara-negara yang semula bersistem khilafah itu dipenggal menjadi 75 negara dan negara-negara kecil. Lalu di tangan Barat negara-negara itu dikapling dan dijajah satu persatu. Di tahun 1799 mereka menyerukan imigrasi ke Palestina dan bermukim di tanah milik Palestina tahun 1854 melalui tekanan negara-negara Barat. Kemudian mereka mendirikan Persatuan Israel Dunia di Perancis tahun 1860. Di tengah-tengah cengkeraman penjajah di tanah Arab, mulailah eksodus besar-besaran kaum Yahudi ke tanah Palestina.

Lalu di tahun 1895 seorang Yahudi berkelahiran Austria, Hertzel menerbitkan sebuah buku "Jews State" dan menggelar Konferensi Zionis pertama di tahun 1897. Konferensi selanjutnya masih terus digelar hingga kini. Melalui konferensi tersebut, Yahudi berhasil menyulut Perang Dunia I dan II sehingga Inggeris mendeklarasikan Perjanjian Balfoure di tahun 1917 dan menggagas Revolusi Komunis di Rusia pada tahun yang sama.

Melalui mandat Inggeris, rencana pendudukan Yahudi dunia di tanah suci Palestina berjalan mulus. Kesemuanya merupakan konspirasi global Yahudi di seluruh dunia baik tersembunyi atau terang-terangan. Lalu di tahun 1924 negara khilafah islamiyah benar-benar berakhir. Seiring dengan keruntuhan itu, empat tahun kemudian kaum Yahudi mendirikan negara Zionis dengan pongahnya. Empat kali perang berkecamuk sengit dengan korban sipil tak berdosa melalui pembantaian yang tak berperikemanusiaan. Perang tersebut menimbulkan kerusakan besar di wilayah itu sehingga keadaannya menjadi lebih kacau daripada berpuluh-puluh tahun sebelumnya.

Tekanan internasional terhadap bumi Palestina terus berlangsung, dan fakta seakan menerima adanya spesies zionis asing di jantung wilayah Arab tersebut. Makhluk-makhluk berdarah zionis tersebut terus tumbuh secara militer hingga menjadi sel kanker yang mengancam kehancuran seluruh tubuh wilayah itu. Apa yang terjadi di bumi Palestina sepanjang abad, dan realisasi operasi militer di akhir Juli 2006 berupa penyerangan membabi buta terhadap negara berdaulat Libanon tanpa mengindahkan kecaman dunia internasional, merupakan bukti keserakahan, kesombongan, kepongahan dan sikap arogan yang sangat terlalu. Sekali lagi nubuat (ramalam) al-Quran yang terekam 1400 tahun terbukti lagi:

Dan Telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar". Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. Dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (QS. Al-Isra [17]: 4-8).

Ayat ini turun lebih dari 14 abad yang lalu, akan tetapi kepongahan, keangkuhan dan tindakan babarian Israel di jantung wilayah Arab hari ini dan seterusnya akan mereka lakukan tanpa akhir. Kekurangajaran militer Israel dan perasaan tinggi hati dengan serangkaian penghancuran masal terhadap infrastruktur di beberapa tempat di Palestina dan Libanon merupakan saksi paling akurat akan keberanan al-Quran. Dengan demikian, janji Allah sudah benar-benar dekat: dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya (QS. Yusuf [12]: 21). Wallahu a'lam.
(religiusta.multiply.com)
posted by Aris Hidayat @ 8:33 AM   0 comments
Buanjir Dateng Lagi
1/13/2009
Hampir setiap awal tahun di Jakarta akan mengalami banjir, hal ini disebabkan oleh curah hujan tinggi dimana air sudah tidak mampu lagi dilewatkan oleh saluran-saluran air yang ada. Dongeng menjelang tidur siang tentang banjir Jakarta sudah pernah dituliskan disini :

* Villa Puncak - Mekanisme Banjir Jakarta
* Mengapa 20 tahun aman kok sekarang banjir ?
* Whalllah banjir !!

Banjir di Jakarta sangat (lebih) mungkin disebabkan oleh aliran air permukaan (runoff). Daya serap tanah sudah pasti tidak akan mampu lagi menyerap air hujan lebat. Kemampuan saluran yang ada baik got, sungai maupun Saluran Banjir kanal tidak mampu menahan banjir bila hujan sangat deras. Penyebab tambahan adalah akibat kiriman dari Bogor memang ada tetapi sangat tidak dominan. Kalau memang daya serap air serta kemugkinan banjir kiriman, maka yang perlu dilakukan adalah memperbaiki saluran air lingkungan. Termasuk didalamnya Banjir Kanal Barat (BKB) dan Banjir Kanal Timur (BKT). Tetapi seperti yang dituliskan dalam tulisan sebelumnya bahwa apabila curah hujan sama seperti awal tahun 2007 kemarin, bahwa walaupun ada BKB dan BKT hanya mengurangi efek banjir, tetapi tidak mampu menghilangkan banjir di Jakarta.

“Whaduh Pakdhe, kalau gitu Ibukota Indonesia harus dipindahkan donk?”
“Menurut perkiraan sepintas, maka paling telat pada tahun 2011 pembanggunan Daerah Jonggol sebagai ibukota pemerintahan harus sudah dimulai Thole”
posted by Aris Hidayat @ 10:45 AM   0 comments
Profil Facebook Aris Hidayat
Previous Post
Archives

Blogroll




ffff
Manusia Biasa
setetes embun
logot1tokecil



Photobucket

trik yuwie
Bikers Online Media

MY FRIENDS

Mini Web

© 2005 Aris Hidayat Blogspot Template by arishidayat.blogspot.com